Selasa, 21 Juni 2011

COKRO MANGGILINGAN

Sering kita mendengar ungkapan hidup ini bagaikan roda berputar / cokro manggilingan.
Begitu para pinisepuh memberikan pituturnya yg indah kepada putro wayah yg sedang mengalami dis integrrasi.
Krisis kepercayaan dalam menjaga/ memelihara eksistensi hidup di dunia bingung ini.

Saya akan mencoba mengingatkan diri saya terutama, dalam menyikapi konsep cokro manggilingan ini.

Begini..
Percontohan yg sering saya dengar adalah saat seseorang menghadapi krisis psikologi selalu muncul penyemangat : sabarlah bahwa roda kehidupan sedang berputar.
Sayangnya analogi yg muncul ke permukaan adalah saat kita senang, kaya, sehat, dst itu menandakan kita sedang berada di posisi ATAS roda yg berputar.
Begitu sebaliknya jika kita dalam keadaan susah, miskin, sakit-sakitan, dst itu menandakan kita sedang berada di posisi BAWAH roda yg berputar.

Nah.. tanpa kita sadari telah terjadi dogma yg kurang pas disini.
Kehidupan ini memang senantiasa bergerak. Yang diatas bisa bergerak turun begitu sebaliknya yg dibawahpun juga bisa mengalami kenaikan.
Sehingga tampak sekali ada perbedaan ROSO.. padahal kalo kita cermati siapakah yg menggerakkan roda itu ? Bertumpu pada apa sehingga roda bisa berputar ?

Kita akan bisa melihat dgn jelas bahwa kunci utama bergerak dan berputarnya sang roda karena kekuatan pada POROS.
Dengan letak yg pas ditengah maka inti konsep cokro manggilingan bukan pada adanya perbedaan posisi atas dan bawah. Tapi lebih pada persamaan rasa / PODO ROSO. Baik saat senang ataupun susah, kaya atau miskin, sehat atau sakit, dst. Rasa yg diterima haruslah sama.

Karena sesungguhnya saat kita berada di posisi atas kita sedang "terhubung" dgn suasana serba LEGO dan ketika kita berada di bawah kita sedang "menghubungi" pijakan bumi dengan suasana COBO.

Seperti halnya matahari yg selalu terbit dari timur dan selalu tenggelam di barat. Bagaikan 2 koin kesadaran. Sebagai simbul yg mestinya tidak ditangkap secara harafiah.
TIMUR : mewakili per-adab-an kesadaran batin.
BARAT : mewakili kesadaran per-adab-an teknologi / logika.

Bukan kah kita sekarang sedang tenggelam ke barat dg sangat sadar memasuki per-adab-an logika dan pasti akan njedul / muncul dari timur dgn kesadaran batinnya yg lugu.

Pembuktian bisa kita lihat dari banyaknya kejadian disekitar kita.
Bangsa manapun di dunia bulat bundar ini akan terheran heran dgn kehidupan bangsa ini.
Contohnya : seseorang yg punya 3 anak dgn 1 istri saja, nyaris tidak punya penghasilan.
Tapi punya pengeluaran / biaya hidup yg pasti.
Lalu dari mana ? bagaimana ? mereka mendapatkan penghasilan agar hidup bisa dilaluinya..
Sementara kenyataan yg ada mereka tetap bertahan dgn cara hidupnya yg konfensional..
Semuanya tergantung pribadi masing-masing.

Hal ini karena begitu kuatnya konsep cokro manggilingan manjing dalam pikiran dan ketetapan hatinya.
Oleh karena itu sudah sewajarnya kita sekarang belajar dari poro eyang kita dulu dengan mensikapi makna yg sesungguhnya di isyaratkan.
Sehingga akan muncul PODO ROSO pada semua keadaan dan tergulung PORO ROSO menggumpal menjadi satu keyakinan ketetapan pada hidupnya..

catatan redaksi : pramilo enggalo eling tuwin waspodo gandeng suasono paribahan gagraking jagat wus trontong-trontong hamapak jaman kala subha....Rahayu selamet.
Flowers emotions cantik nature anime wonderful car body design lamborghini

0 komentar:

Poskan Komentar